Laskar Rawangun JKT
satu bulan + 2 minggu saya dijakarta. tidak terduga sebelumnya, kaki yang cantik dan mungil ini telah menginjak ibunya indonesia, ya.. Jakarta.., dari sudut manapun kita memandang jakarta pasti indah, namun saat saya di BUSWAY, saat asik memandang sekeliling tiba-tiba sederet tulisan hadir di depanku bunyinya kayak begini ” Jakarta memang indah teman” tapi itu semua hanyalah “Keindahan semu belaka kawan”, tiba-tiba tulisan itu hilang, ah peduli amat, mau semu kek..mau hampa kek, jakarta tetaplah jakarta kota penuh warna sekaligus kota tak berwarna (apa maksudnya)..(makanya belajar)…
Saat ini hari-hariku, ku habiskan di Rawamangun tepatnya di Gang Kayu Jati V, tinggal di sebuah “PONDOKAN” yang temannya teman…
Kata orang “jangan liat luarnya tapi liat dulu dalamnya” kayaknya pepatah ini cocok untuk pondokanku, dari luar memang kayak kandang ayam tapi di dalamnya tinggal segerombolan manusia yang meminjam istilah dondenk “MANUSIA JAGONA”
“pondokanku” tak bernama hanya ada nomor yang terpampang di depannya “21”, tak ada yang istimewa dari nomor ini, kecuali saya teringat “andrea pirlo” mengenakan nomor 21 di tim AZZURRI, dan meminjam judul novel Andrea Hirata saya menyebut sekelompok manusia itu sebagai “LASKAR RAWAMANGUN”
Semakin banyak interaksi semakin banyak juga aksi reaksi, begitupun juga dengan para penghuni “21” ini, dari interaksi ini muncul karakter-karakter seperti di sinetron-sinetron saat ini, kayak sinetron “ular-ular” di Indosiar ha..ha..
Yang pertama adalah “Bapak Kost”, terhitung mulai saya tinggal sudah 4 kali saya kena petuah-petuahnya dengan nada sedikit alto. Bapak ini katanya mantan tentara, memang dari bodi & perawakan seperti tentara tapi kayak “Laskar Tak Begunenya Malaysia”, mungkin karena masih terbawa nuansa peperangan sehingga bapak kost sering marah-marah, “pokoknya marah is the best” mungkin itu yang ada di kepala bapak kost. kata teman biarkan saja memang begitu bapak kost, kata kata : Belagu lho, Brengsek, Tai lho, menjadi makanan “laskar rawamangun” yang dapat giliran kena marah.
“Ibu Kost”. ibu ini anaknya “Bapak kost”. ibu sosok yang agamis, seorang guru, dan selalu menasehati kami soal kebersihan pondokan, saya tak tahu banyak tentang ibu kost, hanya saja pertama kali sama tame ke pondokan ini ibu salah kasi kunci kamar, jadi dari jam 2 sampai mau isya menunggu di depan pintu kamar, sempat juga terbersit di pikiranku jangan-jangan yang kasi kunci kemarin bukan yang punya kost, mana sudah di bayar lagi tapi untung, itu hanya pikiran sesaat karena ternyata waktu isya kami telah menempati kamar baru kami., satu hal yang saya salut dari ibu, ketika menasehati kami selalu ada kata “maaf” di akhir kalimatnya.
Di pondokan 21 ini yang yang tua-tua ada 3 orang, “Mang Dayat”, Bang tidak di tahu namanya, dan “Bapak UNJ”
“Mang Dayat”, Bapak ini adalah penjual bubur kacang ijo, kopi dll. saya belum kenal sekali bapak ini, tapi dari roman wajahnya bapak ini pasti orang baik.. dan bersahaja.., Bapak ini yang paling sering di marahin bapak kost gara-gara bawa istrinya ke kamar, karena tidak tahan istrinya di pulangkan ke kampung. “Mang Dayat” inilah yang paling banyak makan asam garam kemarahan BAPAK KOST.
“Bang tidak di tahu namanya”. Bapak ini PKL (Pedagang Kaki Lima)di sekitar arion mall dekat velodrome. Bapak ini bodinya besar tapi rajin shalat. saya selalu melihat bapak ini shalat di ruangan kecil kayak mushalla samping kamarnya. Satu-satunya yang pernah melawan Bapak Kost adalah bapak ini. kata teman-teman Bapak Kost takut sama bang yang tidak di tahu namanya ini.
“Bapak UNJ” wah lucu juga namanya di.. UNJ itu (Universitas Negeri Jakarta), bapak ini petugas perpustakaan UNJ, nama ini ada pas saya ada, saya tanya teman-teman siapa namanya tidak ada yang tahu, karena kerja di UNJ, saya coba bilang Bapak UNJ, eh.. malah akrab di telinga. Bapak UNJ ini menteri informasinya laskar rawamangun, kalau sore kami biasanya diberikan koran, minimal tambah informasilah karena di “Kandang Ayam” ini kami tak ada televisi, jadi hanya koran yang menemani kami, koran favorite kami adalah “top skorer” pasti ana2 berebutan untuk membacanya. ada satu hal yang saya kagum dari bapak UNJ ini “senyumannya” dimanapun kita bertemu bapak ini pasti senyum duluan.. begitu indah, saya teringat sosok pak Harfan dalam laskar pelangi, bapak UNJ ini kayak pak harfan bukan dari umur tapi sosok kepribadiannya, seakan-akan bapak UNJ ini mengutip kata-kata pak harfan “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”, it’s so nice..
Nah masuk ke ABGnya Laskar Rawamangun, nah ini dia sebenarnya para laskarnya, yaitu, 3 orang mahasiswa UNJ, mas sugeng, “orang-orang aneh”, saya dan tame, dan andry.
3 Mahasiswa UNJ, yaitu dede, deni dan iwan. dede dan deni mahasiswa FIK (ilmu olahraga) UNJ. Dede orang sunda tapi tinggal di tangerang, dede kalau bicara lembut banget, kalau cewek dengar dede bicara yakin dan pasti cewek itu akan berkata “baiknya cowok ini” karena tutur katanya yang lembut. Deni, teman satu ini orang bogor,tiap weekend pasti pulang ke bogor katanya rindu sama keluarga. Dua-duanya baik dan peramah, mereka inilah palang pintu pondokan kami badan mereka besar-besar dan kuat. Deni kalau pagi mau mandi selalu menyanyi suaranya memang bagus oii…minimal pengantar untuk tidur kembali di pagi hari.
Iwan, mahasiwa kimia UNJ, orang cirebon, teman ini bisa dibilang gila juga, suka menyanyi sendiri, jago main gitar tapi tidak ada gitar di pondokan, karena pernah dimarahin ibu kost, iwan nyanyi sampai tengah malam tapi dengan lagu rock katanya seperti lolongan srigala yang 3 hari tidak makan.. kacian… iwan teman saya untuk “gila-gilaan” juga, dia yang selalu menunjukkan tempat dimana ada rental yang murah, tahu Warteg yang paling enak, hanya tempat tempat yang berbau “klenik” kayaknya yang tidak di tahu sama iwan, iwan ini yang selalu makan bersama kami, beli lauk dan masak bersama-sama pake rice cookernya ujang (warga pondokan yang diusir sama bapak kost, tapi masih biasa datang ke pondokan)
“Mas Sugeng” orang jawa timur, kerja di SPBU dekat arion juga. Mas ini “rajanya GPRS”, karena kalau sudah malam ya.. itu main GPRS melulu sampai mau tidur. tapi soal cinta mas ini kayaknya yang punya cerita cinta yang sangat menyedihkan, mas pernah cerita dikamar soal nasib cintanya, saya dan tame hanya bisa manggut-manggut saja.
“Orang-orang aneh” begitulah iwan menyebutnya, kamarnya pas diantara iwan dan dede, mereka berdua biasa juga bertiga, aneh karena jarang bicara dan jarang tersenyum, pergi pagi-pagi eh..siang ada lagi, betul-betul aneh, hanya mas sugeng yang pernah saya liat bertutur sapa itupun juga sebentar sekali, tak ada yang saya tahu dari teman ini kecuali keanehannya.
“Tamrin” atau Tame teman sekamar, orang toli-toli, salah satu teman terbaikku, sama-sama anak KIDS, pokoknya indah bersama tame sekamar berdua, makan berdua, tidurpun berdua, ya..ya..iyalah ada dua kasur satu untuk saya satu untuk tame.
“ANDRI”, teman ini murid baru di pondok, baru dua minggu ada di pondokan. orang purwakarta, kerja sebagai teknisi AC di RS di jln balai pustaka. orangnya baik dan selalu dikejar-kejar cewek di tempat kerjanya begitu kata dia kalau cerita di kamar. dan memang sih… hal itu ditunjukkan dengan sms-sms dari cewek teman kerjanya, memang wajar kok andri ini memang diberi sedikit kelebihan “Ketampanan”. tapi kayaknya yang tulis ini diberi sedikit + 1/2 kelebihan “Kegagahan”. hehehe..
Saya sendiri, saya hanya bisa menggambarkan diriku sebagai “Jaya Yang Selalu Jagona” hanya itu tak kurang dan tak lebih.. he..he..he..
Nah.. itu semua gambaran sekilas karakteristik dan kepribadian laskar rawamangun, masih banyak yang aneh sih.. tapi semua itu menyakinkanku bahwa hidup bersama mereka di “KANDANG AYAM” ini begitu bersahaja sekaligus menyenangkan.
Hidup memang indah bagi mereka yang mau mensyukuri apa yang ada dan memang harus begitu karena yang ada itu lebih baik daripada yang tidak ada. Dalam novel Laskar pelangi ada kata2 begini “Hidup dengan usaha adalah mata yang ditutup untuk memilih buah-buahan dalam keranjang, buah apapun yang di dapat kita tetap dapat buah. sedang hidup tanpa usaha adalah mata yang ditutup untuk mencari kucing hitam di dalam kamar gelap dan kucingnya tidak ada. jadi kita memang percaya pada nasib dan takdir tapi dengan usaha, hidup ini akan lebih berarti.
Mungkin takdir jugalah yang membawaku ke jakarta, kota dengan seribu impian nyata sekaligus seribu satu impian omong kosong, tapi aku yakin akan ada setitik cahaya di kegelapan malam dan aku yakin lagi itulah sang keindahan hakiki. MAU 13 April 2008

